Minggu, 26 September 2010

ASURANSI, LEVER DAN BIAYA RUMAH SAKIT

Panas yang dialami Dina 34 tahun, ibu satu anak itu sudah berjalan selama seminggu. Setelah dikerokin dan berobat ke klinik kecil, panas tubuhnya tidak juga turun, dia mulai curiga dengan penyakit yang dideritanya apakah mungkin tipes atau demam berdarah. Penyakit yang selalu menghantui warga di Jakarta.

Saat itu sekitar pukul 9.30 WIB, matahari belum terlalu tinggi. Sembilan batang pohon angsana meneduhi lapangan parkir motor di halaman depan rumah sakit Sint Corolus. Dia bersama suaminya segera menuju ruang gawat darurat (UGD).

Dokter dan perawat di unit gawat darurat tersenyum sambil menyapa, selamat pagi, ada yang bisa saya bantu? Siapa yang sakit? Wanita muda itu kemudian menerangkan kondisi tubuhnya, dan perawat mempersilakan dia untuk berbaring diranjang di ruang tersebut. Wangi karbol dari lantai yang sedikit basah karena baru selesai dipel membuat suasana nyaman. Cat dinding dengan warna merah muda memberikan suasana lain pada rumah sakit itu. Selama ini kita selalu membayangkan rumah sakit itu putih atau biru cat dindingnya.

Setelah menunggu sekitar 3 menit, seorang dokter datang menghampirinya, menanyakan kondisi dan apa yang dirasakannya kemudian memeriksanya. Setelah diambil sample darah untuk diperiksa laboratorium dokter menyarankan untuk dirongent. Dan dengan berbaring di atas ranjang tadi ia dibawa perawat menuju ruang radiologi. Tidak membutuhkan waktu lama karena saat itu pasien sedang sedikit, hasil rongent didapat dan diserahkan ke dokter.

Setelah melihat dan mempelajari hasil rongent dan hasil laboratorium dokter memberi saran untuk dirawat di rumah sakit karena ada dugaan sakit brinkopneumonia. Dan tanpa banyak pikiran suaminya mengiakan untuk dirawat. Perawat segera memberi petunjuk bagaimana dan dimana mengurus administrasi di rumah sakit itu.

Ruang administrasi rumah sakit Sint Carolus terletak di gedung yang bersebelahan dengan gedung gawat darurat. Tepatnya di gedung utama setelah lapangan parkir mobil. Di ruangan ini ada dua sekat. Sekat pertama untuk administrasi sebelum perawatan dan pengobatan. Sekat kedua untuk pembayaran biaya ketika pasien akan pulang setelah proses perawatan dan pengobatan selesai. Di sinilah titik awal dan akhir proses pengobatan pasien. Jika sang pasien menyanggupi segenap biaya yang akan dibebankan padanya maka proses pengobatan akan segera dimulai. Jika tidak maka pasien akan pulang dan menempuh cara lain dalam menyembuhkan penyakitnya, setelah terlebih dahulu menyelesaikan kewajibannya.

Karena istrinya mempunyai asuransi kesehatan. Saat itu kartu AIG Lippo. Yang mempunyai link di rumah sakit St.Carolus maka tidak ada uang tunai yang harus dikeluarkan. Cukup menunjukan kartu asuransi asli dan KTP asli pemegang kartu. Maka proses administrasi selesai. Dan pasien mendapatkan semacam surat izin dirawat untuk melanjutkan pengobatan penyakitnya. Padahal biasanya jika kita berobat kerumah sakit dan harus dirawat maka diharuskan membayar uang muka atau jaminan perawatan, minimal sekitar 2 jutaan. Namun dengan adanya asuransi hal ini tidak ada.

Saat sedang menjalani perawatan dan mulai ditangani dokter kita jangan tenang dulu. Ada banyak kemungkinan selama perawatan itu. Jangan karena mengalami batuk maka yang dikeluhkan hanya batuknya saja. Padahal bisa juga mengalami kenaikan suhu tubuh yang tinggi namun tidak dirasakannya karena tertutup oleh dahsyatnya batuk. Sokrates, guru pengenalan diri sering berbicara mengenai keutamaan mengenal diri. Menurut dia lewat mengenal diri orang akan memiliki persepsi tepat tentang dirinya sendiri. Karena itu ketika kita menjalani pengobatan dan perawatan di rumah sakit kita perlu dan harus sedikit cerewet. Karena dalam menentukan suatu jenis penyakit yang dialami seorang pasien, dokter akan berhati-hati. Dia akan memeriksa semua kemungkinan penyakit pasiennya. Kadang dalam menghdapi pasien, seorang dokter bisa menentukan penyakit yg dialami sang pasien dalam sekali lihat saja, namun ada juga yang sampai 20 hari tidak ketahuan penyakitnya. Untuk ibu muda itu, memerlukan waktu sampai 8 hari untuk mengetahui penyakitnya. Namun di tempat lain ada yang sampai lebih dari 2 minggu belum juga jelas penyakit apalagi kemungkinan kesembuhannya.

Contohnya bapak Hasan, seorang pensiunan berusia 65 tahun yang mengeluhkan batuk tiada henti selama 2 minggu. Pertama dia berobat ke suatu klinik besar dan ternama. Setelah dirawat 3 hari sang pasien dirujuk ke rumah sakit kanker, karena dari hasil rongent terlihat benjolan di paru-parunya. Di sini pasien menjalani endoskopi, selang berisi kamera kecil dimasukan ke paru-paru lewat mulutnya untuk mengetahui lebih jelas benjolannya. Namun setelah paru-parunya diobok-obok tidak ditemukan juga benjolan itu, apalagi kankernya. Kemudian setelah dirongent ulang ternyata benjolan diparu-parunya tidak ada. Akhirnya benjolan itu disimpulkan hanya busa biasa yang tidak membahayakan. Karena tidak ditemukan kanker maka pasien dirujuk untuk dirawat di rumah sakit biasa, kemudian dipilihlah rumah sakit lain.

Selama 14 hari pertama perawatan disini belum juga diketahui penyakitnya. Dan pasien makin kurus walau infusan makanan dan obat antibiotik menempel ditubuhnya. Ada 4 selang infusan ditubuhnya, dua ditangan kanan dan dua ditangan kiri. Dari berbagai macam dokter spesialis yang menanganinya akhirnya diketahui penyakitnya berasal dari lever, bukan dari paru-paru. Ada katup di levernya yang tidak bisa tertutup secara otomatis sehingga mengeluarkan cairan yang memicu terjadinya batuk dan berujung pada batuk tiada henti.

Dengan diketahui penyakitnya, pasien bisa diobati lebih fokus dan dapat sembuh lebih cepat.

Kita tidak bisa menyalahkan dokter disana yang menangani dia, mereka juga manusia yang bisa salah. Andai kita menghadapi pasien dengan keadaan seperti yang dialami bapak Hasan, pensiunan tadi yang mengalami batuk tiada henti, kita akan berfikir sesuatu terjadi pada paru-parunya. Apalagi bapak itu perokok, walau hanya 1 batang sehari. Padahal selain batuk dia juga mengalami gejala suhu tubuh yang tinggi, namun panas di badannya mudah diturunkan, sehingga hal ini tidak terlalu diperhitungkan para dokter.

Banyak hal yang tidak diduga sekarang terjadi. Kecelakaan, sakit, dan kematian adalah hal yang jamak dirasakan manusia. Yang berbeda adalah cara mereka menghadapi hal ini. Ketika hal ini terjadi kepada kita, kita akan bingung untuk mengambil langkah selanjutnya. Dan dengan mempersiapkan diri kita untuk menghadapi apa yang terjadi orang tidak akan mudah stress. Coba bayangkan jika kita tidak punya persiapan seperti asuransi, atau tabungan paling kita akan frustasi karena menjadi pengutang yang tak berdaya. Kita juga harus sudah menetapkan kemana kita akan berobat jika sakit itu datang. Rumah sakit memang banyak, namun dokter yang benar-benar ahli sedikit jumlahnya.

Bapak pensiunan itu akhirnya menghabiskan biaya sekitar 60jutaan rupiah dalam menjalani perawatan selama 20 hari untuk kamar kelas 2, itu belum termasuk biaya diobok-obok di rumah sakit dan biaya perawatan di klinik sebelumnya. Sedangkan ibu muda tadi setelah dirawat selama 12 hari di kamar kelas 2 menghabiskan biaya sekitar 13 jutaan rupiah, padahal penyakit kedua orang tersebut tidak berbeda jauh. Ibu muda itu mengalami penurunan jumlah SGOT. Kedua penyakit yang mereka alami sama-sama bersumber dari lever, namun dengan gejala yang berbeda.

Sakit itu mahal. Dina, ibu muda itu akhirnya mengeluarkan uang 3 jutaan rupiah untuk biaya rumah sakit karena asuransi hanya menanggung 10 juta saja, dengan alasan asuransi tidak menangung biaya untuk hal-hal tertentu, hal ini sudah ada dalam klausul perjanjian asuransi. Untuk orang yang bekerja dengan pendapatan dibawah 2 juta perbulan, hal ini adalah pukulan telak yang akan membuat KO seketika. Namun apapun bentuknya pengalaman dan keadaan ini semoga dapat dijadikan jalan untuk memperbaharui kesejahteraan dan cara berfikir kita dalam mengelola hidup.
Read More..

Sabtu, 25 September 2010

banjir lagi banjir lagi




Biasa banjir lagi.. gara gara di bogor hujan..

Kalau mau hidup di Jakarta siapkan rumah yang bertingkat dan loteng yang luas untuk menyimpan barangbarang seisi rumah.
jakarta tea.

Jika semua sudah selesai dan dipersipkan dengan baik maka nikmatilah.
Mari berenang..
Read More..

Sabtu, 04 September 2010

banjir kiriman sampai


inilah para penerima banjir kiriman dari bogor..
mau puasa, mau lebaran mau tahunbaru ini kiriman selalu terkirim secara otomatis..

gelandangan ataupun orang gerobak yang tinggal di kolong kolong jembatan harus rela selama tinggal di jacatra..

so enjoy aja..
Read More..